dedicated for the girl on the phone.
di suatu kebisingan malam, ketika gw di jalan pulang dari kampus, gw dengerin sebuah stasiun radio yang malem itu topik utamanya adalah: long distance relationship. kebetulan, saat itu gw juga lagi tinggal berjauhan dengan sang jagoan.
dengan suara serek2nya, kedua dije itu kerap berkoar "kalo lo punya sebuah persepsi tentang ldr, kita tunggu telepon atau sms lo di nomor........". dan tibalah seseorang sebaya gw menelepon. dengan matangnya dia bicara, "gw kasihan sama cewe yang mau long distance (relationship). pathethic!"
mari kita telaah argumennya dia.
"kita tuh masih cukup muda, masih gampang untuk cari pasangan hidup. seberapa pentingnya sih dia sampai kita rela untuk nyiksa diri demi pertahanin hubungan sama dia yang ngga ada di samping kita? kita pacaran, kita butuh untuk dibahagiain, kita butuh untuk disentuh. dan orang yang kita harapin untuk bahagiain kita dan nyentuh kita itu ngga ada. so? buat apa juga? gw lebih mending untuk putus, daripada ngejalaninnya tapi gw munafik sampe akhirnya diri gw tersiksa atau selingkuh!".
kedua dije pun bertanya lagi, "tapi kalo cowo lo masih sayang sama lo gimana? trus pas dia balik ternyata lo berdua masih saling sayang, apa lo mau balik sama dia lagi?" *dan seabreg bantahan lainnya.
and the girl said, "itu urusan nanti. apa yang ada di depan gw sekarang, itu yang gw hadapin."
uhm.. are you looking for a temporary replacement, sweetie? hehehew..
okay, tidak sepenuhnya gw menyalahkan cewe itu. dia bener. gw sebagai cewe, tentunya pengen dapet perhatian dari pacarnya. dan kalo dalam sebuah ldr pacar gw ngga bisa jalanin komitmennya, gw memang lebih baik putus.
sebelum gw sama pacar gw berjauhan, gw dan dia ngga bikin terlalu banyak agreement. pertama, gw dan dia pacaran pake metode blak-blakan, apapun yang dirasain itu yang diungkapin. dan gw minta dia untuk tetap seperti itu. kedua, we built something that we can both share. dengan 2 hal tersebut, dalam setiap komunikasi selalu ada hal yang dibahas daripada sekedar bilang: i miss you; i cant live without you; cant wait to see you.
and guess what, those things eliminated our loneliness!!
(percaya ato ngga, temen gw tiba2 sms gw, katanya pacarnya mau studi ke luar kota dan dia bingung musti gimana.. uh, God bless me).
in surviving a long distance relationship, settle for a temporary replacement when his/her partner is not physical around is one of big don'ts! ngaco banget sih yang punya pikiran gini. it breaks the trust! dan mending putus, seperti kata cewe ditelepon itu.
cheers,
pantad.
go to long distance relationship, wednesday 7, 2007
Monday, August 13, 2007
Sunday, August 5, 2007
live a life.
Labels:
The Miracle of Life
udah lama gw merasa ada yang salah dengan filosofi/quotes/pepatah/*apalah itu namanya* tentang hidup. ngga tau karena apa, mungkin juga dengan 'gaya bahasa'-nya yang *sangat indonesia* itu sampai akhirnya gw merasa 'ada yang salah'. tapi mungkin juga karena pergeseran zaman, akhirnya quotes tersebut juga kena pergeseran makna.
"gantunglah cita-citamu setinggi langit."
sejak kemunculan Sherina, yang dengan lugunya dia berkata "gantunglah cita-citamu setinggi langit2, karena langit ngga mungkin digapai", quotes ini udah jarang didenger lagi karena kalah popularitas dengan quotesnya Sherina itu. atau mungkin langit2 masih susah digapai? kalo gitu kenapa kita gantungin cita2 kita? pasang aja target cita2 yang sederhana, tapi kita mampu untuk meraih cita2 kita tersebut. sayangnya quotes itu diperuntukkan sama anak2 yang konon masih bisa dikelabui secara bahasa..
ada juga temen se-RT-nya gantunglah bla bla blah, namanya "belajarlah hingga ke negeri cina."
maksudnya apa yah? kita harus study abroad? kenapa musti ke negeri cina? orang cina aja udah berkeliaran di jakarta. *ditonjok sama orang cina*.
padahal kalo kita tengok ke negeri sendiri, banyak loh sekolah/university yang ngga kalah kualitasnya dengan punyanya 'si negeri cina' itu. hahaha.. ini sih gw cuma bercanda. tapi kalo emang ada duitnya, boleh2 aja belajar -bukan main2- di luar negeri. toh kita memang harus mengakui kalo negara kita memang agak ketinggalan.
nah, yang paling gw bingungin seumur2 adalah kalimat ini: "hidup itu bagaikan roda, dia terus berputar.. kadang di atas, kadang di bawah" *baca dengan nada puitis.
persepsi gw mengenai hidup, agak beda dari pepatah ini.
roda itu memang berputar, dan kehidupan -menurut gw- ngga berputar, tapi berjalan.
ketika roda itu berhenti, apakah itu mengibaratkan hidup juga berhenti?
ketika roda itu berhenti, trus didorong lagi oleh mesin/manusia, apakah itu mengibaratkan bahwa kita bangkit karena didorong oleh orang lain?
dan kalimat 'kadang di atas, kadang di bawah', seolah2 menandakan bahwa si roda adalah orang yang pasrah dan cuma nerima nasib.
karena 'terbuai' sama kalimat itu, orang yang ada 'di bawah' sering ngga melakukan effort untuk bisa 'ke atas'. mereka percaya nasib akan berubah dengan sendirinya, karena roda pun pasti berputar.
padahal apa kenyataannya?
banyak orang yang miskin dari lahir, sampai akhirnya dia jatuh, ketiban tangga, ditonjok duren, dipipisin babi, didamprat nene2 pake tongkat, ditabrak banteng, diseruduk germo, kejebur aspal, sampe akhirnya mati jantungan dikagetin vj daniel, nasibnya ngga berubah sama sekali.
pada dasarnya, kita hidup itu untuk berusaha dalam segala hal, termasuk dapetin gebetan dan cari duit. ehm ok, intinya, kita hidup itu untuk mencapai tujuan, yaitu hidup yang baik dan terus lebih baik. tapi pada kenyataannya hidup itu ngga lebih dari sekedar masalah dan kegagalan. jadi orang miskin, itu pasti masalah, karena -bahasa ekonominya- ngga sejahtera. mau hidup kaya pun jadi masalah, karena jadi kaya monyet, dan kelakukannya kaya babi. *ditabok orang kaya*. maksud gw, orang kaya pun banyak mengalami masalah, seperti kaya monyet. *ditabok lagi*. ok, maksudnya, banyak orang kaya yang juga penyakitan, mandul, medit sampe akhirnya sakit jiwa dan ngga punya temen, perceraian, dan.. apa sih di dunia ini yang bukan masalah??
kalo hidup itu muter2, sama aja kayak kita selalu jatuh di lubang yang sama. karena hidup itu ngga sekedar muter2, tapi kita terus jalan ke arah tujuan. dan perjalanannya pasti ngga gampang. giliran kita jatuh, gagal, kena masalah, cuma diri kita yang bisa bikin diri kita sendiri bangkit, dan terus berjalan. bukan didorong oleh orang lain. toh pada akhirnya, usaha apa yang kita lakukan akan mendatangkan hasil yang setimpal.
regards,
pantad.
"gantunglah cita-citamu setinggi langit."
sejak kemunculan Sherina, yang dengan lugunya dia berkata "gantunglah cita-citamu setinggi langit2, karena langit ngga mungkin digapai", quotes ini udah jarang didenger lagi karena kalah popularitas dengan quotesnya Sherina itu. atau mungkin langit2 masih susah digapai? kalo gitu kenapa kita gantungin cita2 kita? pasang aja target cita2 yang sederhana, tapi kita mampu untuk meraih cita2 kita tersebut. sayangnya quotes itu diperuntukkan sama anak2 yang konon masih bisa dikelabui secara bahasa..
ada juga temen se-RT-nya gantunglah bla bla blah, namanya "belajarlah hingga ke negeri cina."
maksudnya apa yah? kita harus study abroad? kenapa musti ke negeri cina? orang cina aja udah berkeliaran di jakarta. *ditonjok sama orang cina*.
padahal kalo kita tengok ke negeri sendiri, banyak loh sekolah/university yang ngga kalah kualitasnya dengan punyanya 'si negeri cina' itu. hahaha.. ini sih gw cuma bercanda. tapi kalo emang ada duitnya, boleh2 aja belajar -bukan main2- di luar negeri. toh kita memang harus mengakui kalo negara kita memang agak ketinggalan.
nah, yang paling gw bingungin seumur2 adalah kalimat ini: "hidup itu bagaikan roda, dia terus berputar.. kadang di atas, kadang di bawah" *baca dengan nada puitis.
persepsi gw mengenai hidup, agak beda dari pepatah ini.
roda itu memang berputar, dan kehidupan -menurut gw- ngga berputar, tapi berjalan.
ketika roda itu berhenti, apakah itu mengibaratkan hidup juga berhenti?
ketika roda itu berhenti, trus didorong lagi oleh mesin/manusia, apakah itu mengibaratkan bahwa kita bangkit karena didorong oleh orang lain?
dan kalimat 'kadang di atas, kadang di bawah', seolah2 menandakan bahwa si roda adalah orang yang pasrah dan cuma nerima nasib.
karena 'terbuai' sama kalimat itu, orang yang ada 'di bawah' sering ngga melakukan effort untuk bisa 'ke atas'. mereka percaya nasib akan berubah dengan sendirinya, karena roda pun pasti berputar.
padahal apa kenyataannya?
banyak orang yang miskin dari lahir, sampai akhirnya dia jatuh, ketiban tangga, ditonjok duren, dipipisin babi, didamprat nene2 pake tongkat, ditabrak banteng, diseruduk germo, kejebur aspal, sampe akhirnya mati jantungan dikagetin vj daniel, nasibnya ngga berubah sama sekali.
pada dasarnya, kita hidup itu untuk berusaha dalam segala hal, termasuk dapetin gebetan dan cari duit. ehm ok, intinya, kita hidup itu untuk mencapai tujuan, yaitu hidup yang baik dan terus lebih baik. tapi pada kenyataannya hidup itu ngga lebih dari sekedar masalah dan kegagalan. jadi orang miskin, itu pasti masalah, karena -bahasa ekonominya- ngga sejahtera. mau hidup kaya pun jadi masalah, karena jadi kaya monyet, dan kelakukannya kaya babi. *ditabok orang kaya*. maksud gw, orang kaya pun banyak mengalami masalah, seperti kaya monyet. *ditabok lagi*. ok, maksudnya, banyak orang kaya yang juga penyakitan, mandul, medit sampe akhirnya sakit jiwa dan ngga punya temen, perceraian, dan.. apa sih di dunia ini yang bukan masalah??
kalo hidup itu muter2, sama aja kayak kita selalu jatuh di lubang yang sama. karena hidup itu ngga sekedar muter2, tapi kita terus jalan ke arah tujuan. dan perjalanannya pasti ngga gampang. giliran kita jatuh, gagal, kena masalah, cuma diri kita yang bisa bikin diri kita sendiri bangkit, dan terus berjalan. bukan didorong oleh orang lain. toh pada akhirnya, usaha apa yang kita lakukan akan mendatangkan hasil yang setimpal.
regards,
pantad.
Subscribe to:
Posts (Atom)