udah lama gw merasa ada yang salah dengan filosofi/quotes/pepatah/*apalah itu namanya* tentang hidup. ngga tau karena apa, mungkin juga dengan 'gaya bahasa'-nya yang *sangat indonesia* itu sampai akhirnya gw merasa 'ada yang salah'. tapi mungkin juga karena pergeseran zaman, akhirnya quotes tersebut juga kena pergeseran makna.
"gantunglah cita-citamu setinggi langit."
sejak kemunculan Sherina, yang dengan lugunya dia berkata "gantunglah cita-citamu setinggi langit2, karena langit ngga mungkin digapai", quotes ini udah jarang didenger lagi karena kalah popularitas dengan quotesnya Sherina itu. atau mungkin langit2 masih susah digapai? kalo gitu kenapa kita gantungin cita2 kita? pasang aja target cita2 yang sederhana, tapi kita mampu untuk meraih cita2 kita tersebut. sayangnya quotes itu diperuntukkan sama anak2 yang konon masih bisa dikelabui secara bahasa..
ada juga temen se-RT-nya gantunglah bla bla blah, namanya "belajarlah hingga ke negeri cina."
maksudnya apa yah? kita harus study abroad? kenapa musti ke negeri cina? orang cina aja udah berkeliaran di jakarta. *ditonjok sama orang cina*.
padahal kalo kita tengok ke negeri sendiri, banyak loh sekolah/university yang ngga kalah kualitasnya dengan punyanya 'si negeri cina' itu. hahaha.. ini sih gw cuma bercanda. tapi kalo emang ada duitnya, boleh2 aja belajar -bukan main2- di luar negeri. toh kita memang harus mengakui kalo negara kita memang agak ketinggalan.
nah, yang paling gw bingungin seumur2 adalah kalimat ini: "hidup itu bagaikan roda, dia terus berputar.. kadang di atas, kadang di bawah" *baca dengan nada puitis.
persepsi gw mengenai hidup, agak beda dari pepatah ini.
roda itu memang berputar, dan kehidupan -menurut gw- ngga berputar, tapi berjalan.
ketika roda itu berhenti, apakah itu mengibaratkan hidup juga berhenti?
ketika roda itu berhenti, trus didorong lagi oleh mesin/manusia, apakah itu mengibaratkan bahwa kita bangkit karena didorong oleh orang lain?
dan kalimat 'kadang di atas, kadang di bawah', seolah2 menandakan bahwa si roda adalah orang yang pasrah dan cuma nerima nasib.
karena 'terbuai' sama kalimat itu, orang yang ada 'di bawah' sering ngga melakukan effort untuk bisa 'ke atas'. mereka percaya nasib akan berubah dengan sendirinya, karena roda pun pasti berputar.
padahal apa kenyataannya?
banyak orang yang miskin dari lahir, sampai akhirnya dia jatuh, ketiban tangga, ditonjok duren, dipipisin babi, didamprat nene2 pake tongkat, ditabrak banteng, diseruduk germo, kejebur aspal, sampe akhirnya mati jantungan dikagetin vj daniel, nasibnya ngga berubah sama sekali.
pada dasarnya, kita hidup itu untuk berusaha dalam segala hal, termasuk dapetin gebetan dan cari duit. ehm ok, intinya, kita hidup itu untuk mencapai tujuan, yaitu hidup yang baik dan terus lebih baik. tapi pada kenyataannya hidup itu ngga lebih dari sekedar masalah dan kegagalan. jadi orang miskin, itu pasti masalah, karena -bahasa ekonominya- ngga sejahtera. mau hidup kaya pun jadi masalah, karena jadi kaya monyet, dan kelakukannya kaya babi. *ditabok orang kaya*. maksud gw, orang kaya pun banyak mengalami masalah, seperti kaya monyet. *ditabok lagi*. ok, maksudnya, banyak orang kaya yang juga penyakitan, mandul, medit sampe akhirnya sakit jiwa dan ngga punya temen, perceraian, dan.. apa sih di dunia ini yang bukan masalah??
kalo hidup itu muter2, sama aja kayak kita selalu jatuh di lubang yang sama. karena hidup itu ngga sekedar muter2, tapi kita terus jalan ke arah tujuan. dan perjalanannya pasti ngga gampang. giliran kita jatuh, gagal, kena masalah, cuma diri kita yang bisa bikin diri kita sendiri bangkit, dan terus berjalan. bukan didorong oleh orang lain. toh pada akhirnya, usaha apa yang kita lakukan akan mendatangkan hasil yang setimpal.
regards,
pantad.