kata Dian, seperti yang bisa kita liat di infotainment,
- sensor itu menurunkan kecerdasan bangsa hingga titik nol,
- buat apa disensor sementara VCD bokep/porno lainnya masih beredar bebas di glodok?
- kita minta dibubarin bukan karena mau bikin film porno,
- (bla bla bla) kemiskinan (bla bla bla) ibu yang diperkosa di rumah tangga (bla bla bla) realita (bla bla bla)
okay, bermodalkan satu kalimat 'seni' atau 'art', mereka minta LSF dibubarin karena menghambat/membatasi kinerja mereka dalam berekspresi.
sepertinya kita bicara tentang hak. sineas muda menuntut hak mereka. tapi apa mereka udah ngejalanin kewajiban? okay, bukan itu yang mau kita bicarain.
gua cuma bisa ngasih komentar, bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang heterogen. okay kalo adegan kissing dibilang suatu seni dan ada message di balik adegan itu, tapi itu dari sisi sineas. dari sisi yang nonton, tingkat pendidikan penonton itu beda-beda. apa mereka (semua penonton) akan mampu menyerap message dari adegan kissing itu seperti apa yang diharapkan oleh sineas?
100% NGGA AKAN MAMPU.
KITA INI HETEROGEN!!
okay, kata sineas muda, kita bubarkan LSF tapi bikin klasifikasi dalam film.
sanggup?
sebuah klasifikasi/segmenting itu ngga akan mampu membatasi konsumen yang seperti ini. kita butuh lembaga untuk memberi batasan. semua harus ada batasannya.
gua hanya bisa diem denger perseteruan ngga penting ini dan bertanya-tanya, apa sineas muda itu ngga berkaca dulu dengan kondisi kita? kenapa mereka bertindak dari sudut pandangnya, dan bukan dari sudut pandang penonton atau konsumen? sementara sineas senior lainnya ngga ada yang mampu ngasih argumen secara tepat. GUA GATEL DENGERNYA.
buat gua ini, kalo LSF dibubarin dan ngga ada lagi batasan dalam bikin film, efeknya baru bisa dilihat jangka panjang. dan di benak gua, sama sekali ngga terbesit bahwa pembubaran LSF akan menghasilkan efek yang positif. mau bukti? liat Amerika.
pantad.
